Kota Pariaman Jadi Destinasi Primadona Wisatawan


Tabuik pariaman merupakan salah satu tradisi dalam memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein Bin Ali. Tradisi ini sudah dilakukan sejak abad ke-19 masehi dan tepatnya di Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Tradisi ini diperingati pada tanggal 10 muharram, karena Hussein beserta keluarganya wafat dalam perang karbala atau disebut peperangan antara pasukan Hussein Bin Ali melawan tentara Yazid bin Muawiyah dari Dinasti Umayyah.


Kata Tabuik berasal dari bahasa arab “tabut” yang berarti peti kayu, yang bermakna bahwa adanya kemunculan kuda bersayap yang berkepala manusia atau disebut dengan buraq. Legenda ini menceritakan setelah Hussein wafat, kotak kayu ini berupa potongan jenazahnya yang diterbangkan kelangit oleh buraq.


Tradisi tabuik ini memiliki tujuh tahapan, yaitu dimulai dengan mengambil tanah pada tanggal 1 muharram, menebang batang pisang pada tanggal 5 muharram, mataam pada tanggal 7 muharram dan dilanjutkan dengan mengarak jari-jari pada malam harinya, ritual mengarak sorban pada tanggal 8 muharram, ritual tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan melarung ke laut menjelang maghrib.


Puncak Festival tabuik ini dilaksanakan dari pagi hari hingga menjelang maghrib dengan dimulai mempersiapkan segala ritual dan diakhiri pada saat membawa tabuik ke Pantai Gondoriah. Lapisan masyarakat setempat, hingga ribuan wisatawan baik dari pelosok Sumatera Barat, wisatawan lokal hingga mancanegara harus ikut melaksanakan tradisi tabuik ini secara sakral, sebab ritual ini dipanjatkan untuk Hussein Bin Ali yang wafat pada peperangan.


Banyak acara yang diselenggarakan di Kota Pariaman ketika akan adanya festival tabuik seperti, aktivitas budaya berupa tarian tradisional, qasidah, festival lagu minang, pencak silat, dan lain lainnya, yang akan dilaksanakan sejak 1 muharram hingga 10 muharram.


Wisatawan yang ingin datang dan menikmati tradisi tabuik, serta melihat aneka ragam budaya yang diselenggarakan di Kota Pariaman, hanya dapat dinikmati sekali setahun, yakni pada kalender islam atau tepatnya pada bulan Muharram.


Untuk menuju Kota Pariaman bisa ditempuh dengan sepeda motor, mobil pribadi ataupun untuk wisatawan dari luar kota bisa menggunakan bus atau kereta api dari stasiun yang ada di Kota Padang, dengan jarak tempuh 40 kilometer. Jika ditempuh dengan sepeda motor akan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Jika ditempuh dengan bus atau mobil pribadi akan memakan waktu satu setengah jam, tergantung dengan keadaan jalan yang macet atau tidak. Khusus para wisatawan yang menggunakan transportasi bus, harus membayar ongkos sebesar Rp.15 ribu rupiah. Apabila menggunakan transportasi kereta api, hanya memakan waktu sekitar satu jam dan hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 5 ribu rupiah, untuk tiket kereta api.


Para wisatawan yang ingin mengikuti ritual tabuik dari tanggal 1 hingga 10 muharram bisa menginap di homestay sekitar kota Pariaman. Harga homestay yang ditawarkan sangat murah, mulai dari Rp.100- 300 ribu rupiah, dengan lokasi dekat dengan bibir pantai sepanjang Kota Pariaman.




Nah, lanjut dengan kuliner khas Kota Pariaman yaitu Nasi Sek. Nasi Sek ini merupakan makanan khas pariaman berupa nasi yang dibungkus kecil sekepalan tangan menggunakan daun pisang, seperti Nasi Kucing yang ada di Jawa Tengah, Istimewanya Nasi Sek ini terletak pada lauknya sebagai peneman makannya. Nasi Sek ini akan dihidangkan dengan gulai kepala ikan karang, gulai jengkol, sambal cabai, sayur singkong, dan lauk lainnya, serta tidak lupa dengan sala lauak, yang merupakan cemilan khas pariaman, yang terbuat dari tepung yang dibumbukan dan diisi dengan ikan kecil kecil.


Untuk harga Nasi Sek perbungkusnya hanya Rp. 2 ribu rupiah, sementara untuk harga lauknya bervariasi mulai dari Rp. 10-20 ribu rupiah. Sementara untuk harga cemilan sala lauak djual Rp.500 rupiah perbutirnya.




Para wisatawan juga dapat membeli oleh oleh khas pariaman yaitu Aneka Ragam Rakik. Rakik merupakan makanan yang dibuat dari adonan tepung yang bisa dicampur dengan hasil laut seperti, ikan, udang, kepiting, dan lain lain. Rakik ini dibuat dengan cara digoreng dan hasilnya berbentuk kerupuk yang sangat gurih. Harga rakik ini bervariasi, mulai dari Rp.10-30 ribu rupiah.




Nah bagaimana sahabat Travtrip? Sudah tertarik belum untuk liburan ke Kota Pariaman? Tidak hanya gratis mengikuti ritual tradisi budaya tabuiknya, tapi destinasi wisatanya juga menjadi selingan, untuk menikmati Kota Pariaman. Tidak lupa juga, penginapan dan aneka ragam kulinernya yang murah meriah bukan?




16 views0 comments

Recent Posts

See All