Menikmati Sejarah dan Kuliner di Sawahlunto


Gudang Ransum merupakan salah satu destinasi museum sejarah yang ada di Sumatera Barat. Museum ini juga sangat terkenal sebagai salah satu saksi sejarah pada saat penjajahan Belanda. Museum Gudang Ransum, atau yang lebih dikenal dengan Goedang Ransoem didirikan padatahun 1918, tepatnya berlokasi di Jalan abdul Rahman Hakim, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar,Kota Sawahlunto.


Jika ditempuh dari Kota Padang, akan menempuh 94 kilometer dan menghabiskan waktu sekitar dua sampai tiga jam, hal ini disebabkan oleh perkiraan keadaan lalu lintas yang ramai atau kendaraan yang digunakan untuk menuju kota Sawahlunto.


Untuk menuju Kota Sawahlunto bisa menggunakan bus umum dengan mengeluarkan biaya transportasi Rp. 30.000, kemudian untuk menuju Museum Gudang Ransum bisa berjalan kaki dari pusat kota Sawahlunto.


Museum Gudang Ransum ini berbeda dengan museum lainnya. Koleksi yang terdapat pada Museum Gudang Ransum ini, berupa peralatan dapur yang digunakan untuk memasak makanan para pekerjatambang batu bara ataupun pasien RSU.


Sisa-sisa artefak bersejarah ini berupa seperti periuk besar, pemanas air, dan benda lainnya berupa peralatan dapur yang berukuran sangat besar, karena digunakan untuk memasak 3900 kg beras perharinya. Alat masak ini dapat terlihat terpajangdi Gudang Ransum sebagai buktibanyaknya orang orang yang dirampashaknya oleh kolonial Belanda.


Koleksi Foto Lama Gudang Ransum


Pada awalnya peralatan masak bersejarah ini memiliki 24 ketel ukuran besar, namun sekarang dibagi menjadi dua tipe ketel atau periuk, yaitu untuk memasak nasi dan sayur. Periuk ini berdiameter 148 cm, dan tinggi 70 cm, serta ketebalan 3 cm.


Melalui Gudang Ransum ini juga terdapat reproduksi foto foto lama sebanyak 250 buah tentang kehidupan para pekerja tambang dan pasien RSU, berupa foto pekerja paksa yang kakinya dirantai atau disebut orang rantai, foto pakaian mandor, pakaian pekerja, koki, perlengkapan tambang batu barabaik yang modern ataupun tradisional pada zamannya, serta contoh batu bara.


Pada bagian lainnya di dalam Museum Gudang Ransum, terdapat ruang audio visual, dengan tempat duduk layaknya sebuah teater, dimana tempat ini menunjukkan video dokumentasi sejarahpertambangan batu bara di daerah Sawahlunto.


Ada juga sebuah bangunanpenunjang dapur umum, berupa gedung mesin uap, gudang penyimpanan bahan mentah, tungku pembakaran, ruang pembuat es batangan, tempat penggilingan padi, rumah potong hewan serta juga terdapat musholla.


Sementara dibelakang Museum Gudang Ransum, terdapat batu batu nisan sebagai bukti sejarah para pekerja paksa batu bara, dan pasien RSU yang merupakan keluarga dari pekerja paksa batu bara, yang hanyadiberi nomor, tanpa nama.


Harga tiket masuk untuk museum ini Rp.5000 untuk orang dewasa, dan Rp.2000 untuk anak anak. Sementara jam operasi museum ini dari pukul 07:30-16:00 setiap harinya.


Bagian dekat Cerobong Gudang Ransum


Wisatawan yang sudah mengunjungi Gudang Ransum, wajib untuk mencoba kuliner serta membeli souvenir khas dari Kota Sawahlunto. Penasaran apa saja bukan?


Dimulai dari kulinernyanya, Sawahlunto memiliki makanan khas yaitu Sup Silungkang, yang terbuat dari daging sapi dan kaya dengan rempah rempah. Penyajiannya disini memiliki perbedaan yaitu disajikan dengan tulang sapi dan ditambah dengan bawang goreng sehingga menambah cita rasa yang renyah dan lebih harum, harga sup silungkang ini hanya Rp.15 ribu rupiah perporsinya.


Sup Silungkang


Makanan khas Sawahlunto lainnya adalah Dendeng Batokok. Dendeng ini dibuat dengan irisan tipis daging sapi, kemudian dilumuri minyak kelapa agar lebih gurih, barulah diberi rempah bumbu seperti, jahe, ketumbar, bawang putih, bawang merah, kunyit, lengkuas, jeruk nipis, dan garam. Sebelum dendeng ini dipanggang diatas bara tempurung, daging ini dipukul (ditokok) dengan menggunakan palu, agar bumbu bumbunya lebih meresap kedalam serat daging. Dendeng batokok ini biasanya disajikan dengan sambal dari cabai merah yang dihaluskan. Satu potong dendeng batokok dapat dinikmati mulai harga Rp20-30 ribu rupiah.


Dendeng Batokok


Tak kalahnya lagi, cemilan khas Sawahlunto yaitu Ale-Ale Apam, merupakan makanan yang dibuat dari tepung beras putih, santan, pandan dan gula jawa. Proses pembuatan kue ini memakan waktu 6-7 jam, dan dijual seharga Rp.5000 untuk empat buah kue. Sudah kebayang nikmatnya kue yang dimasak 7 jam belum?


Ale-Ale Apam

Tidak hanya kue Ale-Ale Apam, tapi juga ada kue Pinyaram, yang terbuat dari beras hitam atau putih, dan ditambahkan santan serta gula aren, dan dimasak menggunakan cetakan. Harga kue Pinyaram ini mulai Rp. 5000 hingga Rp.10.000 perporsinya.


Kue Pinyaram


Tak tertinggal lagi kulinernya yaitu Lamang Tungkek, yang terbuat dari ketan, santan gula aren dan dibungkus dengan daun pisang, kemudian dimasak di dalam bambu. Lamang Tungkek ini dimasak selama 15 menit dan dijual mulai harga Rp. 5 ribu perpotongnya.


Lamang Tungkek


Para wisatawan yang ingin membawa souvenir lainnya pulang, bisa membeli kain songket khas Sawahlunto ataupun kerajinan Batu Bara. Harga kain songket ini mulai dari Rp. 300 ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung motif dan ukuran kainnya. Sementara untuk kerajinan Batu Bara dijual dari harga Rp. 10 ribu rupiah hingga jutaan rupiah juga.


Kain Songket Silungkang


Kerajinan batu Bara


Tidak hanya menikmati cita rasa banyak kuliner di Sawahlunto, tetapi wisatawan juga dapat melihat bukti saksi bisu penjajahan yang ada di Sawahlunto ini.

Kapan lagi liburan sembari belajar sejarah bukan?





12 views0 comments

Recent Posts

See All